Di tengah pesatnya adopsi teknologi digital, banyak dealer mobil di Indonesia mulai memanfaatkan kecerdasan buatan atau AI untuk meningkatkan layanan. Salah satu yang paling populer adalah penggunaan chatbot AI generatif di situs web atau aplikasi perpesanan untuk melayani pelanggan 24 jam sehari. Teknologi ini menjanjikan efisiensi dan respons cepat, namun di balik kecanggihannya tersimpan sebuah risiko tersembunyi yang perlu diwaspadai: halusinasi AI. Ini bukan sekadar kesalahan teknis, melainkan sebuah ancaman nyata yang bisa merusak reputasi dan merugikan bisnis Anda secara finansial.
Halusinasi AI adalah kondisi ketika chatbot memberikan informasi yang tidak akurat, tidak relevan, atau bahkan mengarang fakta yang sama sekali tidak benar. Bayangkan seorang calon pembeli bertanya tentang promo, lalu chatbot Anda dengan meyakinkan menawarkan diskon besar untuk kampanye yang sudah berakhir tiga bulan lalu. Atau dalam kasus yang lebih ekstrem, seperti yang pernah terjadi di luar negeri, sebuah chatbot dibujuk oleh pengguna untuk menyetujui penjualan mobil baru seharga satu dolar. Meskipun tidak mengikat secara hukum, insiden semacam ini dapat dengan cepat merusak kepercayaan pelanggan dan menciptakan citra negatif yang sulit untuk diperbaiki di era digital saat ini.
Risiko ini muncul karena model AI generatif yang luas tidak selalu memiliki konteks spesifik dari sebuah bisnis. Tanpa "pagar pengaman" yang tepat, AI bisa mengambil informasi dari sumber yang salah atau salah menafsirkan permintaan pengguna, terutama jika diprovokasi dengan pertanyaan-pertanyaan iseng. Masalah ini bukan hanya sebatas jawaban yang aneh, tetapi bisa berujung pada komplain pelanggan, tuntutan palsu, dan kebingungan internal. Bagi industri otomotif yang sangat bergantung pada kepercayaan dan ketepatan informasi, halusinasi AI menjadi tantangan serius yang tidak bisa diabaikan.
Namun, bukan berarti dealer harus takut untuk mengadopsi teknologi ini. Para ahli dan perusahaan teknologi terkemuka telah mengembangkan berbagai solusi untuk meminimalkan risiko halusinasi AI. Salah satu pendekatan yang paling efektif adalah dengan melatih AI menggunakan basis data internal yang spesifik milik dealer, seperti daftar harga yang valid, kebijakan perusahaan, dan detail promosi yang sedang berjalan. Selain itu, beberapa perusahaan kini menerapkan sistem "AI pengawas", di mana ada chatbot lain yang bertugas memeriksa kebenaran informasi sebelum disampaikan kepada pelanggan. Langkah-langkah ini membantu memastikan AI tetap fokus dan tidak memberikan jawaban di luar konteks yang telah ditentukan.
Pada akhirnya, kunci untuk memanfaatkan AI secara aman dan efektif terletak pada kombinasi antara teknologi canggih dan pengawasan manusia. Membiarkan AI bekerja sepenuhnya tanpa ada campur tangan manusia adalah sebuah kesalahan. Peran staf dealer kini berkembang, tidak hanya sebagai penjual, tetapi juga sebagai supervisor yang memantau, mengoreksi, dan melatih AI. Dengan pendekatan yang tepat, yaitu menerapkan batasan yang jelas dan melibatkan peran manusia dalam siklusnya, chatbot AI dapat menjadi aset yang sangat berharga untuk meningkatkan pengalaman pelanggan dan efisiensi operasional tanpa perlu khawatir akan risiko halusinasi yang merugikan.