>
 

Tarif AS Dibalas Tarif UE: Siapa yang Akan Mengalah di Tengah Panasnya Hubungan Dagang?

By Farhan
Category: News

Tarif AS Dibalas Tarif UE: Siapa yang Akan Mengalah di Tengah Panasnya Hubungan Dagang? image
Ketegangan hubungan dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa (UE) kembali memanas, memasuki fase krusial menjelang batas waktu negosiasi pada 1 Agustus mendatang. Setelah berbagai upaya diplomasi, kini kedua blok ekonomi raksasa ini bersiap untuk saling balas tarif, memicu kekhawatiran baru di pasar global. Pertanyaannya, siapa yang akan mengalah di tengah panasnya hubungan dagang ini demi menghindari perang tarif skala penuh? Komisi Eropa pada Kamis lalu telah mengesahkan regulasi baru yang cukup mengejutkan. Dalam langkah tegasnya, UE akan memberlakukan bea masuk hingga 30% pada sejumlah produk AS. Tak hanya itu, beberapa di antaranya bahkan dijadwalkan mulai berlaku pada 7 Agustus 2025. Yang lebih signifikan lagi, regulasi ini juga mencakup penghentian total ekspor limbah baja, besi, dan aluminium ke AS, yang akan efektif mulai 7 September 2025. Keputusan ini jelas merupakan sinyal kuat dari Brussel bahwa mereka serius dalam menanggapi kebijakan tarif AS yang terus berkembang. Langkah balasan dari UE ini sejatinya menggantikan rencana tarif retaliasi sebelumnya yang sempat tertunda dua kali. Dulu, UE berencana membalas tarif AS pada baja, aluminium, mobil, suku cadang mobil, hingga truk. Penundaan tersebut dilakukan dengan harapan bisa tercapai kesepakatan damai dengan pemerintahan Presiden AS Donald Trump. Namun, seiring waktu, kesabaran UE tampaknya mulai menipis. Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen, menegaskan bahwa meskipun mereka lebih memilih solusi negosiasi, waktu terus berjalan dan mereka akan memanfaatkan sisa waktu hingga 1 Agustus ini. Di sisi lain, Presiden Trump, yang kembali menjabat pada Januari lalu, memang telah memperkenalkan beragam tarif baru. Inti dari persoalan ini terletak pada pajak timbal balik khusus negara yang ia umumkan pada 2 April. Meskipun tarif-tarif ini sempat ditunda sejak 9 April, kini dijadwalkan akan kembali berlaku pada 1 Agustus 2025. Perlu dicatat, AS juga telah menyesuaikan angka tarifnya; jika sebelumnya UE dikenakan tarif 20%, kini potensi tarif yang mengancam produk-produk Eropa bisa mencapai 30% per 1 Agustus, sesuai surat yang dibagikan Trump awal bulan ini. Menjelang batas waktu yang semakin dekat, AS memang telah mengklaim berhasil mencapai kesepakatan atau setidaknya kerangka kesepakatan dengan beberapa mitra dagang kunci, termasuk Jepang, Indonesia, dan Inggris, untuk menurunkan bea masuk khusus negara. Ini menunjukkan bahwa strategi negosiasi Trump memang membuahkan hasil di beberapa front. Namun, situasi dengan Uni Eropa agaknya lebih kompleks. Pertarungan kepentingan ekonomi yang besar dan sikap keras kepala dari kedua belah pihak membuat jalan menuju solusi damai semakin terjal. Akankah ada kejutan di menit-menit terakhir sebelum 1 Agustus, ataukah dunia akan menyaksikan babak baru dari perang dagang global yang berpotensi merugikan semua pihak? Waktu akan menjawabnya.