Krisis semikonduktor yang berulang, dari pandemi global hingga ketegangan geopolitik terbaru seperti kasus Nexperia, telah mengajarkan pelajaran mahal bagi industri otomotif. Tidak ada lagi produsen yang ingin berada dalam posisi rentan ketika pasokan chip, terutama yang jenisnya legacy atau chip lama, tiba-tiba terhenti. Di tengah ancaman tersebut, industri otomotif Jepang, dipimpin oleh raksasa seperti Toyota, kini gencar menerapkan strategi jangka panjang: standarisasi chip lama. Langkah ini dipandang sebagai kunci untuk memastikan produksi mobil tetap stabil dan 'kebal' dari disrupsi rantai pasok global memasuki tahun 2025.
Kerentanan terbesar industri otomotif saat pandemi bukan terletak pada chip tercanggih, melainkan pada semikonduktor khusus (customized chips) yang digunakan untuk mengendalikan fungsi dasar mobil, seperti sistem pengereman ABS, airbag, atau bahkan jendela elektrik. Ketergantungan pada desain khusus ini membuat produsen mobil terperangkap, karena hanya ada sedikit pemasok yang memproduksi chip spesifik tersebut. Inilah yang dihindari oleh CEO Toyota, Koji Sato. Menurutnya, industri otomotif Jepang secara kolektif kini berupaya untuk menstandardisasi penggunaan chip lama (legacy chips), yang merupakan chip dasar, agar dapat digunakan di berbagai model dan platform kendaraan secara universal.
Dengan beralih ke desain chip yang lebih terstandardisasi, pabrikan Jepang dapat mengurangi ketergantungan pada satu pemasok atau satu desain pabrik. Jika satu pabrik terkena masalah, pasokan dapat segera dipindahkan ke produsen chip lain yang mampu memproduksi chip dengan spesifikasi standar yang sama. Langkah proaktif ini juga didukung oleh kondisi global. Meskipun Jepang sedang berupaya meningkatkan produksi chip canggih (seperti chip 2nm pada tahun 2025), fokus pada standarisasi chip dasar adalah pertahanan praktis yang segera dibutuhkan untuk melindungi volume produksi sehari-hari.
Komentar terbaru dari pimpinan Toyota dan situasi genting yang dialami rival seperti Nissan (yang sempat mengatakan stok chip mereka hanya bertahan hingga awal November) menegaskan bahwa krisis ini belum usai. Namun, melalui inisiatif standarisasi ini, pabrikan Jepang tidak hanya berupaya mengatasi kekurangan sekarang, tetapi juga membangun fondasi rantai pasok yang jauh lebih kuat di masa depan. Tujuan besarnya adalah mengubah chip lama dari sumber kerentanan menjadi komponen yang mudah diganti dan dijamin ketersediaannya, sehingga memastikan kelangsungan produksi jutaan unit mobil di seluruh dunia di era geopolitik yang penuh ketidakpastian.