>
 

Psikologi di Balik Tren Mengemudi Sambil Live Streaming

By Afzan
Category: News

Psikologi di Balik Tren Mengemudi Sambil Live Streaming image
Fenomena pengemudi yang melakukan siaran langsung atau live streaming di media sosial seperti TikTok dan Instagram bukanlah pemandangan asing lagi. Sambil memegang kemudi, mata mereka sesekali melirik layar ponsel, bibir tersenyum menyapa penonton, dan jari lincah membalas komentar. Di balik tindakan yang jelas-jelas berbahaya ini, tersimpan dorongan psikologis yang kompleks dan kuat, lebih dari sekadar mencari perhatian. Memahami psikologi di balik tren mengemudi live streaming ini adalah langkah pertama untuk menyadari betapa berbahayanya candu digital di jalan raya. Akar dari perilaku ini sering kali tertanam pada kebutuhan mendasar manusia akan validasi sosial. Di era digital, "likes", komentar, dan jumlah penonton secara langsung diterjemahkan sebagai bentuk pengakuan dan penerimaan. Saat seseorang melakukan siaran langsung, mereka mendapatkan umpan balik instan yang memicu pelepasan dopamin, hormon kebahagiaan di otak. Sensasi menyenangkan ini menciptakan siklus adiktif; semakin banyak interaksi yang didapat, semakin besar dorongan untuk terus melakukannya. Mobil yang seharusnya menjadi ruang privat dan fokus, diubah menjadi panggung digital untuk memanen validasi sesaat, mengabaikan risiko kecelakaan yang mengintai. Selain candu akan validasi, ada faktor kuat lainnya yang disebut FOMO atau Fear of Missing Out. Ini adalah kecemasan bahwa orang lain sedang mengalami sesuatu yang lebih menarik, dan kita tidak menjadi bagian darinya. Dengan melakukan siaran langsung saat mengemudi, seseorang menciptakan ilusi koneksi dan eksistensi. Mereka merasa terhubung dengan audiensnya, berbagi momen "penting" dalam perjalanan mereka, dan melawan perasaan kesepian atau ketertinggalan. Ironisnya, saat mereka berusaha terhubung dengan dunia maya, mereka justru membahayakan koneksi paling nyata: hubungan dengan keselamatan diri sendiri dan pengguna jalan lain. Dorongan ini juga diperkuat oleh ego dan hasrat untuk membangun citra diri atau personal branding. Mengemudi sering kali diasosiasikan dengan kebebasan, kemandirian, dan status. Dengan melakukan siaran langsung dari balik kemudi, beberapa orang merasa sedang memproyeksikan citra diri sebagai sosok yang sibuk, dinamis, dan mampu melakukan banyak hal sekaligus (multitasking). Ini adalah bentuk ekstensi diri di dunia digital, sebuah upaya untuk terlihat lebih penting atau menarik di mata orang lain. Padahal, otak manusia tidak dirancang untuk multitasking yang kompleks. Mengemudi dan berinteraksi dalam siaran langsung adalah dua aktivitas yang sama-sama menuntut konsentrasi penuh, dan memaksakannya secara bersamaan adalah resep menuju petaka. Pada akhirnya, perilaku nekat ini merupakan perpaduan berbahaya antara pencarian dopamin, ketakutan akan kesepian, dan dorongan ego yang dibalut oleh salah persepsi terhadap risiko. Para pelaku sering kali meremehkan bahayanya, merasa "semua akan baik-baik saja" atau "hanya sebentar". Padahal, menurut Undang-Undang No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, melakukan aktivitas lain yang mengganggu konsentrasi saat mengemudi adalah pelanggaran serius. Memahami dorongan psikologis ini bukan untuk membenarkan, tetapi untuk menyadarkan kita semua bahwa tidak ada jumlah 'views' atau 'likes' yang sebanding dengan satu nyawa. Kesadaran untuk meletakkan ponsel dan fokus pada jalan adalah bentuk validasi tertinggi atas penghargaan kita terhadap kehidupan.