Pernahkah Anda bertanya-tanya, seberapa besar sih pengaruh kecepatan berkendara terhadap jarak tempuh mobil Anda? Terutama di era kendaraan listrik (EV) yang semakin populer ini, pertanyaan tersebut menjadi kian relevan. Mari kita kupas tuntas data nyata dari pengujian mendalam yang dilakukan oleh Car and Driver, sebuah nama yang tak asing lagi dalam dunia pengujian kendaraan.
Sejak lama kita tahu, semakin cepat mobil melaju, semakin banyak energi yang dibutuhkan untuk melawan hambatan angin. Fenomena ini berlaku untuk semua jenis kendaraan, baik yang bertenaga bensin maupun listrik, di mana hambatan aerodinamis meningkat drastis seiring dengan kuadrat kecepatan. Untuk membuktikan teori ini di dunia nyata, Car and Driver membawa dua EV yang sangat berbeda—sebuah sedan mewah Lucid Air Pure dan SUV besar Kia EV9 tiga baris—serta Subaru Forester sebagai perbandingan mobil bensin, ke lintasan uji oval Stellantis Chelsea Proving Grounds sepanjang 4,7 mil. Kondisi pengujian dibuat seminimal mungkin dari gangguan eksternal seperti angin atau lalu lintas, dan setiap mobil diuji pada kecepatan konstan 35 mph, 55 mph, 75 mph, dan 95 mph.
Hasil pengujian menunjukkan pola yang menarik. Jelas terlihat bahwa peningkatan kecepatan berdampak signifikan pada jarak tempuh, terutama untuk mobil listrik. Sebagai contoh, saat kecepatan naik dari 35 mph ke 55 mph, Lucid Air mengalami penurunan jarak tempuh sekitar 22 persen, dari 485 mil menjadi 378 mil. Sementara itu, Kia EV9 menunjukkan penurunan yang lebih drastis, sekitar 26 persen, dari 459 mil menjadi 339 mil. Uniknya, Subaru Forester, mobil bensin kami, hanya mengalami penurunan sekitar 9 persen antara kecepatan yang sama. Ini kemungkinan besar karena transmisi mobil bensin yang lebih fleksibel, memungkinkan mesin tetap bekerja di rentang efisiennya.
Perbedaan menjadi semakin mencolok pada kecepatan yang lebih tinggi. Setiap kenaikan 20 mph selanjutnya mengurangi jarak tempuh pada tingkat yang terus meningkat. Lucid Air yang aerodinamis lebih unggul di kecepatan tinggi, dengan penurunan jarak tempuh sekitar 23 persen antara 55 dan 75 mph, dan 24 persen antara 75 dan 95 mph. Namun, Kia EV9 mengalami penurunan lebih dari 30 persen pada setiap segmen kecepatan tersebut. Data ini menunjukkan bahwa desain aerodinamis sangat krusial bagi mobil listrik, terutama untuk penggunaan di kecepatan tinggi.
Fakta menarik lainnya adalah perbandingan dengan angka jarak tempuh EPA yang tertera pada stiker kendaraan. Untuk Lucid Air, jarak tempuh 419 mil (gabungan) menurut EPA hanya bisa dicapai pada kecepatan konstan sekitar 47 mph. Bahkan untuk angka jalan raya EPA 410 mil, hanya bisa dicapai di 49 mph. Hal ini mengindikasikan bahwa klaim jarak tempuh Lucid Air cukup "agresif" di dunia nyata. Berbeda dengan Kia EV9 yang angka EPA-nya (280 mil gabungan dan 253 mil jalan raya) lebih bisa dicapai pada kecepatan jelajah yang lebih tinggi, yakni sekitar 66 mph dan 71 mph. Sementara itu, Subaru Forester dengan angka EPA 465 mil (28 mpg) dapat dicapai dengan nyaman di kecepatan 77 mph. Ini menunjukkan bahwa mobil bensin cenderung lebih realistis dalam mencapai angka efisiensi EPA mereka di kecepatan jalan raya umum.
Perbedaan signifikan antara performa dunia nyata dan angka klaim pada stiker, khususnya untuk EV, bisa menjadi kejutan tidak menyenangkan bagi pembeli EV pemula. Bayangkan saja, perbedaan antara 55 mph dan 75 mph bisa berarti hilangnya 88 mil jarak tempuh untuk Lucid Air dan 109 mil untuk Kia EV9. Bahkan, peningkatan kecepatan dari 70 mph ke 80 mph dapat mengurangi jarak tempuh Air sekitar 40 mil dan EV9 sekitar 45 mil. Meskipun mobil bensin juga mengalami penurunan jarak tempuh, seperti Subaru Forester yang kehilangan sekitar 100 mil untuk peningkatan 10 mph yang sama, perlu diingat bahwa mobil bensin seringkali memiliki total jarak tempuh awal yang lebih besar. Pada kecepatan 80 mph, Forester masih mampu menempuh jarak lebih dari dua kali lipat EV9 dan sekitar 175 mil lebih jauh dari Air.
Kesimpulannya, pengujian ini menegaskan bahwa kecepatan memiliki pengaruh besar terhadap jarak tempuh, terutama pada mobil listrik. Desain aerodinamis sangat penting, dan pembeli EV perlu memahami bahwa angka jarak tempuh EPA mungkin tidak selalu mencerminkan performa di kecepatan tinggi atau kondisi jalan raya konstan. Pengetahuan ini tentu akan sangat membantu Anda dalam membuat keputusan cerdas saat memilih kendaraan impian Anda.