Ketika kita mendengar frasa "mobil listrik", benak sebagian besar orang mungkin langsung tertuju pada Tesla dengan teknologinya yang futuristik. Namun, tahukah Anda bahwa gagasan dan wujud nyata dari kendaraan tanpa bensin ini sebenarnya bukanlah inovasi baru? Faktanya, sejarah mobil listrik sudah dimulai jauh lebih awal, bahkan sebelum mobil bertenaga bensin sempat mendominasi jalanan. Kisah ini adalah tentang sebuah ide cemerlang yang lahir lebih dari satu abad sebelum era modern, sebuah konsep yang sempat populer, menghilang, lalu bangkit kembali dengan kekuatan penuh.
Perjalanan mobil listrik pertama kali berdenyut di era 1830-an, sebuah masa di mana kereta kuda masih menjadi pemandangan umum. Para penemu di Eropa dan Amerika Serikat mulai bereksperimen dengan konsep menggerakkan sebuah kereta menggunakan motor bertenaga baterai. Salah satu perintisnya adalah Robert Anderson dari Skotlandia yang berhasil menciptakan kereta listrik sederhana. Meski begitu, terobosan paling krusial datang pada tahun 1859 ketika fisikawan Prancis, Gaston Planté, menemukan baterai timbal-asam. Inilah baterai isi ulang pertama di dunia, sebuah penemuan fundamental yang mengubah mobil listrik dari sekadar barang aneh menjadi sebuah kemungkinan yang praktis dan menjanjikan.
Memasuki akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, mobil listrik mengalami zaman keemasan pertamanya. Pada masa itu, mobil listrik justru dianggap lebih superior dibandingkan mobil bensin. Bayangkan sebuah kendaraan yang tidak mengeluarkan asap berbau, tidak bergetar hebat, dan tidak memerlukan engkol tangan yang berat dan berbahaya untuk menyalakannya. Mobil listrik menawarkan kemudahan, keheningan, dan kebersihan, menjadikannya kendaraan favorit di kalangan penduduk kota yang makmur dan sering dianggap lebih cocok untuk pengemudi wanita karena pengoperasiannya yang simpel. Pada puncaknya sekitar tahun 1900, mobil listrik memegang sepertiga pangsa pasar mobil di Amerika Serikat, membuktikan popularitasnya yang luar biasa.
Namun, kejayaan tersebut tidak bertahan lama. Perlahan tapi pasti, mobil listrik mulai tersingkir oleh pesaingnya. Titik baliknya adalah kehadiran Ford Model T yang diproduksi secara massal oleh Henry Ford, membuat harga mobil bensin menjadi sangat terjangkau bagi masyarakat luas. Ditambah lagi dengan penemuan ladang minyak raksasa yang membuat bahan bakar bensin melimpah dan murah, nasib mobil listrik semakin terdesak. Kelemahannya pun semakin terasa jelas: jangkauan baterai yang terbatas, waktu pengisian daya yang sangat lama, serta minimnya infrastruktur kelistrikan di luar kota. Pukulan terakhir datang dengan ditemukannya starter elektrik untuk mobil bensin pada tahun 1912, yang menghilangkan salah satu keunggulan utama mobil listrik dari segi kemudahan.
Pada akhirnya, ide cemerlang ini seolah "mati suri" selama puluhan tahun. Ia menjadi catatan kaki dalam sejarah otomotif yang didominasi oleh mesin pembakaran internal. Namun, sejarah membuktikan bahwa ide yang hebat tidak pernah benar-benar mati. Dibutuhkan krisis energi, kesadaran lingkungan, dan lompatan besar dalam teknologi baterai lithium-ion untuk membangkitkannya kembali. Jadi, ketika kita melihat sebuah Tesla melaju di jalanan hari ini, penting untuk mengingat bahwa itu bukanlah awal dari cerita, melainkan puncak dari perjalanan panjang sebuah mimpi yang lahir lebih dari 100 tahun yang lalu.