Meskipun India dikenal sebagai salah satu negara dengan jumlah miliarder yang sangat banyak, ironisnya, penetrasi atau kepemilikan mobil mewah di sana masih sangat rendah. Fenomena ini tentu saja memicu pertanyaan besar: mengapa pasar dengan potensi sebesar ini belum tergarap optimal?
Menurut data terbaru dari industri otomotif, pada tahun fiskal 2025, penjualan mobil di India mencapai angka yang sangat fantastis, yaitu sekitar 4,3 juta unit. Namun, dari angka yang masif tersebut, penjualan kendaraan mewah hanya menyumbang porsi yang sangat kecil, yaitu sekitar 51.000 unit. Angka ini menjadi sorotan utama, bahkan bagi pemimpin industri global seperti CEO Mercedes-Benz, Ola Källenius.
Källenius sendiri menyoroti perbandingan yang cukup mengejutkan. Ia membandingkan angka penjualan Mercedes-Benz di India dengan Swedia, sebuah negara yang populasi penduduknya jauh lebih kecil. Di Swedia, penjualan Mercedes-Benz bisa mencapai sekitar 20.000 unit, atau hampir setengah dari total penjualan mobil mewah di seluruh India. Perbandingan ini secara jelas menunjukkan adanya ketidakseimbangan yang signifikan antara potensi pasar yang dimiliki India dengan realitas yang ada.
Salah satu alasan utama di balik rendahnya penetrasi mobil mewah ini adalah tingginya tarif impor yang diberlakukan oleh pemerintah India. Kebijakan ini, yang bertujuan melindungi industri otomotif lokal, justru menjadi hambatan besar bagi merek-merek premium global. Akibatnya, harga mobil mewah menjadi melambung tinggi, sehingga hanya sebagian kecil masyarakat yang mampu membelinya. Padahal, dengan populasi yang besar dan pertumbuhan ekonomi yang pesat, peluang untuk menjadikan India sebagai salah satu pasar mobil mewah terbesar di dunia sangatlah terbuka lebar, asalkan hambatan-hambatan perdagangan dapat dikurangi.