Isu perang dagang yang sempat memanas antara Amerika Serikat dan Jepang, khususnya terkait tarif impor otomotif, kini seolah menemukan titik terang. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, baru-baru ini mengumumkan tercapainya kesepakatan dagang baru dengan Jepang. Ini menjadi angin segar bagi banyak pihak, terutama industri otomotif Jepang yang sebelumnya tertekan.
Kesepakatan ini dilaporkan bakal mengurangi beban bagi pabrikan mobil Jepang yang mengekspor ke AS. Sebelumnya, ancaman tarif 25% yang akan diberlakukan pada 1 Agustus sempat membuat banyak pihak was-was, bahkan memicu kenaikan biaya produksi serta mempercepat gonjang-ganjing di industri otomotif global, seperti kasus penghentian impor mobil Dodge Hornet hingga Lotus Emira. Namun, dengan kesepakatan ini, Trump menyatakan bahwa ekspor Jepang ke AS kini akan dikenakan tarif 15 persen, jauh lebih rendah dari ancaman awal.
Tak hanya itu, kabar gembira juga datang untuk mobil buatan Jepang yang diimpor ke AS. Menurut laporan dari NHK yang dikutip Automotive News, tarif impor mobil Jepang yang tadinya diincar 25 persen, kini dipangkas menjadi 12,5 persen. Dengan tambahan tarif 2,5 persen yang sudah ada, total tarif impor mobil Jepang menjadi 15 persen. Ini tentu saja melegakan para raksasa otomotif seperti Toyota, Nissan, dan Honda, yang sahamnya langsung melonjak signifikan setelah pengumuman tersebut.
Di sisi lain, kesepakatan ini juga membuka pintu bagi ekspor AS ke Jepang, mencakup produk seperti mobil, truk, beras, dan produk pertanian lainnya. Bahkan, Jepang disebut-sebut akan menginvestasikan $550 miliar di Amerika Serikat. Kendati demikian, tidak semua pihak senang. American Automotive Policy Council, yang mewakili produsen mobil besar AS seperti General Motors, Ford, dan Stellantis, justru menyuarakan kekhawatiran. Mereka menyoroti bahwa tarif untuk impor Jepang kini lebih rendah dibanding tarif 25% yang masih dikenakan pada impor dari Kanada dan Meksiko. Kepala dewan, Matt Blunt, menegaskan bahwa kesepakatan ini "buruk bagi industri AS dan pekerja otomotif AS" jika tarif impor Jepang dengan konten AS yang minim justru lebih rendah dibanding kendaraan buatan Amerika Utara dengan konten AS yang tinggi.
Meskipun detail lengkap kesepakatan ini masih ditunggu oleh Perdana Menteri Jepang Shigeru Ishiba, penurunan tarif ini jelas membawa dampak positif bagi produsen mobil Jepang, yang ekspornya ke AS merupakan salah satu tulang punggung ekonomi mereka. Namun, di tengah euforia ini, pertanyaan tetap menggantung: apakah kesepakatan ini benar-benar mengakhiri drama tarif, atau justru membuka babak baru ketegangan di antara sekutu dagang utama?