Nama Elon Musk mungkin tidak hadir secara fisik di ruang sidang federal Miami pada Senin lalu, namun pengaruhnya terasa kental saat pemilihan juri untuk sidang gugatan perdata terhadap Tesla. Kasus ini berpusat pada kecelakaan maut tahun 2019 yang melibatkan Tesla Model S yang beroperasi dalam mode Autopilot. Tragedi tersebut menewaskan seorang pejalan kaki dan melukai parah lainnya, memicu perdebatan sengit tentang keamanan teknologi mengemudi otonom.
Mengapa kasus ini menarik perhatian? Sejumlah calon juri secara terbuka mengungkapkan kesulitan mereka untuk bersikap adil dan tidak memihak, terutama karena keterkaitan Elon Musk dengan merek Tesla. "Apa pun yang melibatkan Elon Musk sangat sulit bagi saya," aku salah seorang calon juri. Sentimen serupa juga datang dari calon juri lain yang menyatakan ia tak bisa berlaku imparsial lantaran pandangannya terhadap "etika, kepemilikan, dan apa yang saya lihat di berita tentang hubungannya dengan pemerintah" terkait Tesla. Fenomena ini menunjukkan betapa kuatnya citra publik seorang pemimpin dapat memengaruhi persepsi terhadap perusahaannya, bahkan dalam proses hukum.
Siapa yang menggugat Tesla? Gugatan ini diajukan oleh keluarga Naibel Benavides, pejalan kaki yang meninggal dunia, dan pacarnya, Dillon Angulo, yang mengalami cedera serius dalam insiden tersebut. Mereka menuduh bahwa fitur Autopilot Tesla cacat dan tidak aman, menjadi penyebab utama kecelakaan. Menariknya, pengemudi mobil, George McGee, tidak menjadi terdakwa dalam persidangan ini setelah dilaporkan mencapai kesepakatan dengan para penggugat sebelumnya. Ini mengalihkan fokus utama dari kelalaian pengemudi ke potensi kegagalan sistem kendaraan itu sendiri.
Bagaimana kecelakaan itu terjadi dan apa yang diperdebatkan? Menurut pengacara penggugat, Brett Schreiber, bukti akan menunjukkan bahwa Tesla mengabaikan peringatan terkait sistemnya bertahun-tahun sebelum dan sesudah kecelakaan. "Yang tidak diperdebatkan adalah bahwa pengemudi yang menabrak itu ceroboh, terganggu, sedang menggunakan ponselnya dan menjatuhkannya, lalu mengambilnya," kata Schreiber, menambahkan bahwa pengemudi menabrak kliennya dengan kecepatan sekitar 60 mil per jam. Namun, inti gugatan ini adalah bahwa "Tesla tidak akan mengambil tanggung jawab atas kegagalan sistem Autopilot mereka," dan bahwa "Tesla menyiapkan panggung untuk tindakan yang dapat dicegah" dengan klaim seperti pernyataan Elon Musk tentang sensor "superhuman" dan mobil yang "lebih aman daripada manusia." Di sisi lain, Tesla membantah keras klaim ini, menyatakan bahwa kecelakaan itu "tidak ada hubungannya dengan teknologi Autopilot Tesla" melainkan disebabkan oleh "pengemudi yang terganggu" yang secara sadar mengesampingkan sistem mobil saat mencari ponselnya. Mereka menegaskan bahwa pada tahun 2019, tidak ada teknologi penghindaran kecelakaan yang dapat mencegah insiden tragis ini.
Kapan dan di mana kasus ini bergulir? Sidang ini berlangsung di Pengadilan Distrik AS di Miami, Florida, dimulai dengan seleksi juri pada Senin lalu. Kecelakaan fatal yang menjadi dasar gugatan terjadi pada tahun 2019, dan ini adalah salah satu dari lebih dari selusin kasus serupa yang menuntut Tesla terkait kecelakaan yang melibatkan sistem Autopilot atau Full Self-Driving mereka. Terpilihnya enam wanita dan tiga pria sebagai juri menandai dimulainya babak baru dalam pertarungan hukum yang signifikan ini, yang berpotensi memiliki implikasi luas bagi masa depan teknologi otonom.